Penggunaan lahan gambut di Riau dan Sumbar (1)

Potensi sumberdaya lahan gambut di Propinsi Riau, Sumatera Barat dan Jambi cukup beragam karena adanya perbedaan iklim, bahan induk tanah, dan topografi/relief. Keragaman potensi sumberdaya lahan gambut tersebut mengindikasikan perlunya suatu perencanaan penggunaan lahan yang tepat, optimal dan berkelanjutan. Untuk mendukung perencanaan tersebut diperlukan data dan informasi lahan yang meliputi distribusi atau luas penyebaran, potensi dan kendala pengembangan serta teknologi pengelolaan lahan sesuai dengan sifat dan karakteristik lahannya. belum ada tersaji informasi yang akurat mengenai ketersediaan lahan dan penyusunan pewilayahan komoditas unggulan di lahan gambut.

Pembangunan pertanian sebagaimana digariskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 bertumpu pada dua program utama, yaitu (1) Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional (PKP), dan (2) Pengembangan Agribisnis (PA). Kedua program ini mengandalkan potensi sumberdaya lahan sebagai resources base.

Lahan rawa gambut merupakan salah satu sumberdaya alam yang mempunyai fungsi hidro-orologi dan lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta mahluk hidup lainnya. Dalam penggalian dan pemanfaatan sumber daya alam termasuk lahan rawa gambut serta dalam pembinaan lingkungan hidup perlu perencanaan yang teliti, penerapan teknologi yang sesuai dan pengelolaan yang tepat sehingga mutu dan kelestarian sumber alam dan lingkungannya dapat dipertahankan untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Dengan mengetahui sifat-sifat sumberdaya lahan rawa gambut, dan penggunaan lahan pada saat sekarang (existing landuse) akan dapat dibuat perencanaan yang lebih akurat untuk mengoptimalisasikan pemanfaatan dan usaha konservasinya.

Lahan rawa pasang surut di Indonesia cukup luas, sekitar 20,109 juta ha, atau sekitar 10,8 % dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa tersebut sebagian besar terdapat di empat pulau besar yaitu Sumatera 33%, Kalimantan 40%, Sulawesi 5% dan Papua 22 % (Subagjo dan Widjaya Adhi,1998). Potensi sumberdaya lahan gambut cukup beragam karena adanya perbedaan iklim, bahan induk tanah, dan topografi/relief. Keragaman potensi sumberdaya lahan tersebut mengindikasikan perlunya suatu perencanaan penggunaan lahan yang tepat, optimal dan berkelanjutan. Untuk mendukung
perencanaan tersebut diperlukan data dan informasi lahan kering yang meliputi distribusi atau luas penyebaran, potensi dan kendala pengembangan serta teknologi pengelolaan lahan sesuai dengan sifat dan karakteristik lahannya.

Sejak awal tahun 1980-an hingga saat ini telah dilaksanakan berbagai upaya untuk memperbaiki dan mempertajam sistem perencanaan fisik daerah di tingkat propinsi, baik yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian cq. Puslittanak maupun instansi lainnya. Kegiatan tersebut berupa pemetaan tanah tingkat tinjau secara sistematis berskala 1:250.000 di beberapa propinsi, penyusunan peta sistim lahan skala 1:250.000 oleh Departemen Transmigrasi melalui proyek RePPProT (Regional Physical Planning Programme for Transmigration) seluruh Indonesia, pemetaan satuan lahan se-Sumatera
(LREP I, tahun 1986-1991); penyusunan peta potensi dan kesesuaian lahan komoditas perkebunan, hortikultura, tanaman pangan dan peternakan diberbagai propinsi (tahun 1991-1994); peta arahan tata ruang pertanian di 15 propinsi (1995-1997), dan evaluasi ketersediaan lahan skala 1:50.000 di 15 lokasi di 14 propinsi. Sebagian dari data dan informasi tersebut ternyata masih mengalami hambatan untuk digunakan para pengguna, karena beberapa hal diantaranya adalah : (i) peta satuan lahan atau peta tanah tinjau masih memerlukan tahap interpretasi lebih lanjut untuk keperluan penilaian berbagai komoditas yang diinginkan, (ii) peta kesesuaian lahan yang ada bersifat “single value” sehingga menyulitkan untuk melihat peluang pengembangan suatu wilayah terhadap berbagai komoditas, (iii)
informasi penggunaan lahan yang digunakan saat itu sudah kurang sesuai dengan keadaan pengunaan saat ini, dan (iv) peta ketersediaan yang disusun terakhir berskala 1:50.000 belum memberi informasi secara keseluruhan dari propinsi tersebut.

Data dan informasi potensi lahan, khususnya lahan gambut, yang berasal dari kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan diatas (skala peta 1:250.000), belum diketahui secara rinci luasannya yang tersedia dan dapat dipakai untuk pengembangan pertanian. Data tersebut masih perlu diverifikasi dengan penggunaan lahan sekarang (present land use), agar luasan yang tersedia dan dapat dipakai untuk pengembangan pertanian diketahui. Dengan memanfaatkan data citra satelit yang bisa memberikan informasi penggunaan lahan aktual dan penutupan vegetasinya, maka selanjutnya luas lahan yang tersedia akan dapat diketahui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s